Archive for January, 2010

h1

Tulang Sehat tanpa Alas Kaki

January 29, 2010

BELUM memiliki sepatu olahraga bukan lagi alasan untuk tidak melakukan aktivitas fisik, khususnya lari. Pasalnya, studi terbaru mengungkap bahwa lari tanpa alas kaki justru jauh lebih baik.

Lari tanpa alas kaki umum dijumpai di beberapa area di Afrika. Hampir 50 tahun lalu, peraih medali emas olimpiade Abebe Bikila memenangkan lari maraton pertamanya tanpa alas kaki. Sedang pada 1980-an, pelari dari Afrika Selatan Zola Budd masuk ke lintasan tanpa alas kaki.

Baru-baru ini, peneliti menemukan bahwa orang-orang yang lari tanpa alas kaki cenderung mendarat dengan menggunakan ball (tempat penyatuan jari-jari kaki dengan seluruh kaki) atau di bagain kaki. Dengan cara ini, pelari tidak mengguncang tulang.

Tapi, mereka yang lari dengan mengenakan sepatu cenderung mendarat di tumit. Pendaratan seperti ini akan mengirim gelombang kejut yang menyakitkan ke seluruh tubuh.

Peneliti dari Harvard University dan Glasgow University menganalisis gaya berlari dari atlet, baik yang mengenakan sepatu maupun yang lari dengan kaki telanjang.

Hasil menunjukkan, sekitar 75 persen pelari yang bersepatu mendarat di tumit. Artinya, tumit pelari menghantam tanah 1000 kali per mil. Hal ini menciptakan tekanan benturan yang besar dan tiba-tiba.

Sedang mereka yang tanpa alas kaki cenderung mendarat dengan langkah elastis ke arah depan kaki. Mereka lebih condong ke arah jari kaki dan mendarat dengan langkah yang lebih ringan.

Temuan ini, terang peneliti, membantu menjelaskan mengapa banyak pelari dunia dengan daya tahan tinggi berlari sangat baik dengan kaki telanjang.

“Orang yang berlari tanpa alas kaki mendarat dengan cara yang berbeda,” tutur pemimpin studi Dr Daniel Lieberman, profesor bidang evolusi biologi manusia dari Harvard seperti dikutip situs dailymail.

Sebagian besar orang, terang Lieberman, mengira bahwa lari tanpa alas kaki berbahaya dan memicu rasa sakit. Padahal, Anda bisa berlari tanpa alas kaki di permukaan yang yang paling keras sekalipun tanpa rasa sakit.

“Yang Anda perlukan hanyalah sedikit penebalan kulit. Selanjutnya, risiko cederanya akan lebih kecil dibandingkan lari bersepatu,” terang Lieberman

h1

Rahasia Perempuan Hidup Lebih Lama

January 28, 2010

ANDA mungkin sudah sering mendengar bahwa perempuan hidup lebih lama dibandingkan pria. Menurut Tom Perls, pendiri New England Centenarian Study di Boston University, perempuan hidup lima hingga sepuluh tahun lebih lama dibandingkan pria. Sekitar 85 persen dari lansia berumur 100 adalah perempuan. Apa penyebabnya? Berikut uraian dari Tom Perls untuk Anda.

Penundaan gangguan jantung. Menurut Perls, perempuan umumnya menderita penyakit jantung, seperti serangan jantung dan stroke pada usia 70-an atau 80-an. Usia ini sekitar 10 tahun lebih lama dibandingkan laki-laki yang umum menderita penyakit ini di usia 50-an dan 60-an.

Para dokter sebelumnya meyakini bahwa hal ini disebabkan oleh perbedaan hormon estrogen. Akan tetapi, studi-studi telah membuktikan bahwa hal ini tidak benar. Memberikan estrogen pada perempuan postmenopause justru bisa berakibat buruk bagi kesehatan.

Sekarang ini, penundaan penyakit jantung ini dikaitkan dengan kekurangan besi pada perempuan, khususnya perempuan muda yang banyak kehilangan besi akibat menstruasi. Besi berperan besar dalam reaksi-reaksi di dalam sel yang memproduksi radikal bebas, yang bersifat merusak.Radikal bebas ini akan menempel ke membran-membran sel dan DNA serta mempercepat penuaan sel. Kabar baik bagi vegetarian yang ‘puasa’ daging merah sebagai sumber utama besi.

Kromosom. Alasan kedua, terang Perls, adalah  kenyataan bahwa perempuan mempunyai dua kromosom X, sedang pria hanya satu. Beberapa penyakit, terang Perls, berada pada kromosom X. Dari sisi ini, perempuan lebih beruntung karena mempunyai kromosom X pengganti jika salah satu kromosm X mengalami kerusakan.”Tapi hal ini masih menjadi teka-teki,” terang Perls, seperti dikutip situs time.com.

Perubahan hormon. Selain kedua alasan di atas, masih ada beberapa alasan lain yang membuat pria meninggal lebih awal. Di akhir usia remaja dan akhir usia 20-an, pria menjalani proses yang dikenal dengan ‘testosterone storm’. Kadar hormon bisa sangat tinggi dan berubah-ubah.

Perubahan kadar hormon ini bisa memicu perilaku berbahaya pada pria, seperti tidak mengenakan sabuk pengaman, minum alkohol terlalu banyak, agresif dalam menggunakan senjata dan sejenisnya. Perilaku ini memicu meningkatnya angka kematian.

Penyebab lain. Penyebab kematian awal lainnya, lanjut Perls, adalah depresi, khususnya pada pria berusia lanjut. Jika mereka berusaha bunuh diri, kemungkinan mereka untuk sukses lebih besar dibandingkan perempuan.

Bisa diubah

Secara umum, perbedaan angka harapan hidup pria dan perempuan disebabkan oleh faktor lingkungan, seperti perilaku dan paparan dari luar. Kemungkinan pengaruh faktor genetik hanya 30 persen. Karena itu, Anda bisa berupaya untuk memperpanjang angka harapan hidup dengan mengubah perilaku dan kebiasaan buruk.

Pada umumnya, ada tiga perilaku yang cenderung lebih buruk pada pria dibandingkan perempuan. Pria merokok lebih banyak merokok, mengonsumsi makanan yang tinggi kolesterol dan cenderung tidak mengatasi stres sebaik perempuan. Dengan memperbaiki ketiga fator ini, pria juga bisa memperpanjang angka harapan hidup

h1

Penggila Belanja Bakar 48.000 Kalori

January 23, 2010

SERING belanja hingga lesu? Kebiasaan ini tidak selamanya buruk. Studi terbaru bahkan menguak manfaat positif yang bisa didapatkan para penggila belanja. Rata-rata perempuan yang cinta belanja, menurut peneliti, membakar 48.000 kalori setahun.

Rata-rata perempuan membakar sekitar 385 kalori saat berkeliling toko per minggunya. Jumlah kalori ini setara dengan sepotong kue wortel atau dua gelas besar anggur.

Studi ini juga mengungkap bahwa mereka juga berjalan sekitar 154 mil setahun, untuk menawar barang dari satu tempat ke tempat lainnya. Jarak ini setara dengan jarak dari London ke Nottingham.

Menurut peneliti, tidak mengherankan jika para partisipan mengaku merasa lebih capek setelah belanja dibandingkan setelah olahraga di gym.

Studi juga menunjukkan, rata-rata perempuan menempuh 2,96 mil saat berbelanja dan menghabiskan sekitar 2,5 jam berkeliling di toko-toko setiap minggunya.  Sedang laki-laki hanya menghabiskan rata-rata 50 menit dan menempuh 1,5 mil per minggu.

Perempuan rata-rata melangkah sebanyak 7.305 setiap kali berbelanja. Jumlah ini setara dengan 75 persen rekomendasi harian dari NHS. Selain itu, barang belanjaan yang dibawa setiap melangkah setara dengan latihan kekuatan di gym.

Peneliti memperhitungkan, sekitar tiga jam berbelanja bisa membakar 495 kalori dari burger besar. Dua jam belanja bisa membakar  283 kalori dari kopi susu reguler.

Meskipun sembilan dari sepuluh perempuan yang disurvei mengaku mengenakan sepatu olaharga saat berbelanja, dua per tiga mengaku tidak menganggap berbelanja sebagai bentuk olahraga yang resmi.

Satu per tiga dari partisipan mengaku melakukan perjalanan berbelanja ‘serius’ sekali seminggu, sementara delapan dari sepuluh perempuan mengaku berbelanja lebih lama dengan jarak yang lebih jauh saat mereka berbelanja dengan teman. Mereka juga berhenti untuk makan siang atau minum kopi di sela-sela waktu berbelaja.

Akan tetapi, perempuan yang masuk dalam kategori ‘serius’ tidak berhenti. Empat puluh lima persen partisipan mengaku tidak beristirahat dan berbelanja hingga mereka lemas.

Dalam sebuah survei terpisah, para pakar memperhitungkan bahwa perempuan membakar sekitar lima kalori per menit saat berkeliling dan mencari barang yang diinginkan, hampir 48.000 kalori per tahun.

Sekitar dua per tiga dari 300 partispan yang disurvei mengaku tidak berjalan santai. Mereka cenderung berjalan cepat untuk mengerjakan segala sesuatu secepat mungkin

h1

Enam Manfaat Jamur untuk Kesehatan

January 18, 2010

JAMUR telah digunakan selama ribuan tahun, baik sebagai makanan maupun obat herbal. Studi-studi menunjukkan bahwa jamur bisa meningkatkan produksi dan aktivitas sel-sel darah putih. Dan hal ini, menurut direktur Institute of Herbal Medicine Douglas  Schar, sangat baik untuk melawan infeksi. Berikut beberapa manfaat lain dari jamur:

Turunkan berat badan. Jamur mengandung sekitar 80-90 persen air dengan kandungan kalori rendah. Selain itu, jamur juga mengandung sangat sedikit sodium dan lemak, dan 8-10 persen dari komponen kering jamur adalah serat. Karena itu, makanan satu  ini sangat ideal bagi Anda yang sedang mengikuti program pengontrolan berat badan atau diet untuk mengontrol hipertensi.

Sumber kalium. Jamur kaya kalium, mineral yang membantu menurunkan tekanan darah dan mengurangi risiko stroke. Satu jamur portabella ukuran sedang dinyatakan mengandung lebih banyak kalium dibandingkan sebuah pisang atau segelas jus jeruk. Satu takar jamur juga menyediakan 20-40 persen ajuran tembaga harian Anda. Tembaga merupakan mineral yang mengandung komponen pelindung jantung.

Lawan radikal bebas. Jamur kaya akan riboflamin, niacin, dan selenium. Selenium merupakan antioksidan yang bekerja dengan vitamin E untuk melindungi sel-sel dari kerusakan akibat radikal bebas.

Kurangi risiko kanker prostat. Selain melawan radikal bebas, kandungan selenium dalam jamur juga membantu mencegah kanker prostat. Baltimore study yang mempelajari penuaan menemukan, mereka yang mengonsumsi selenium dengan dosis dua kali lipat dari anjuran harian berisiko 65 persen lebih rendah mengalami kanker prostat. Laki-laki dengan kadar selenium terendah berisiko empat hingga lima kali lebih besar mengalami kanker prostat dibandingkan mereka yang memiliki kadar selenium  tertinggi dalam darah.

Cegah kanker payudara. Jamur kancing mengandung komponen yang berfungsi menghambat aktivitas aromatase (enzim yang terlibat dalam produksi estrogen) dan 5-alpha-reductase (enzim yang berfungsi mengubah testosteron menjadi DHT). Temuan terbaru menunjukkan bahwa jamur kancing bisa mengurangi risiko kanker payudara dan kanker prostat. Ekstrak jamur kancing mengurangi perbanyakan sel dan memperkecil ukuran tumor. Efek kemoterapi ini bisa dilihat dengan asupan sekitar 100 gram  jamur per hari.

Atasi flu. Di China dan Jepang, jamur shiitake telah digunakan selama berabad-abad untuk mengatasi demam dan flu. Lentinan, yang diisolasi dari batang jamur shiitake, dinyatakan menstimulasi sistem kekebalan tubuh, membantu melawan infeksi, dan menunjukkan aktivitas antitumor

h1

Faktor-faktor Penghalang Penurunan Berat Badan

January 7, 2010

London, Makan sudah dikurangi dan melakukan olahraga lebih banyak tapi masih juga sulit menurunkan berat badan. Apa saja yang menyebabkan obesitas susah sekali diperangi? Mungkinkah ada virus obesitas?

Tak sedikit penderita obesitas yang sudah menerapkan rumus kalori masuk sama dengan kalori keluar, olahraga teratur, diet seimbang yang biasanya dilakukan orang untuk menjaga berat badan ideal. Tapi hasilnya tidak ada.

Pakar kesehatan menduga ada faktor-faktor tambahan yang membuat kenaikan berat badan. Efek kurang tidur menjadi pemicu risiko kegemukan dan obesitas.

Peningkatan jumlah penderita obesitas yang pesat selama tiga dekade terakhir ini diduga terkait dengan sedikitnya jumlah jam tidur yang berkurang 2 jam dari yang disarankan (7-8 jam sehari).

“Kurang tidur akan memicu hormon ghrelin, yaitu hormon perangsang nafsu makan dan mengurangi hormon leptin, yaitu hormon pemicu rasa kenyang. Intinya, tidur singkat akan menambah rasa lapar dan nafsu makan untuk menyantap makanan,” kata Dr James Gangwisch dari Columbia University seperti dikutip dari Independent, Rabu (6/1/2010).

Carole Caplin, direktur LifeSmart health and Wellbeing Centre di London, mengatakan orang-orang yang kurang tidur cenderung menumpuk lemak. Makan malam dan minum alkohol yang kerap dilakukan orang begadang untuk menghilangkan pikiran karena stres menjadi penyebab obesitas.

Selain kurang tidur, ada beberapa hal lainnya yang bisa menjadi faktor kegemukan.

1. Efek samping obat-obatan
Obat-obatan seperti steroid, anti depresi, anti psychotics dan anti epileptic bisa menstimulasi nafsu makan. Selain itu obat tekanan darah tinggi, penyakit jantung dan pil kontrasepsi pun bisa menyebabkan berat badan bertambah. Satu-satunya cara untuk menghindari efek samping tersebut adalah dengan berkata jujur pada dokter. Jika memungkinkan dokter akan memberi obat lain yang tidak menimbulkan efek samping gemuk.

2. Efek tua
Seiring bertambahnya usia, kebanyakan pria maupun wanita akan mengalami pertambahan berat badan. Tak heran karena biasanya semakin tua seseorang semakin jarang pula berolahraga. Hal ini akan mempengaruhi metabolisme tubuh dan hormon terutama pada wanita.

3. Efek virus
Rasanya agak aneh mungkin jika dikatakan ada virus yang menyebabkan obesitas. Namun Dr Dhurandher dari Wayne State University in Detroit, Michigan menyebutkan fakta yang berhubungan dengan hal tersebut. Menurutnya obesitas seperti sebuah virus yang cepat menyebar layaknya kebakaran hutan.

Sebuah epidemik meninggalnya ayam pada tahun 1980 di Bombay menunjukkan bahwa ayam yang terinfeksi adenovirus (virus penyebab flu biasa pada manusia) lebih banyak menimpa ayam-ayam yang gemuk daripada ayam kurus. Studi lainnya juga menunjukkan bahwa satu dari lima orang obesitas menunjukkan infeksi adenovirus.

4. Efek kurang bergerak
Tubuh kita sebenarnya ingin bergerak tapi lingkungan yang membatasi dan menekan keinginan tersebut. Menurut Professor Levine, pengarang buku ‘Move A Little, Lose A Lot’, rata-rata orang hanya berjalan kaki 5.000 hingga 6.000 langkah tiap harinya, padahal seharusnya sekitar di atas 10.0000 langkah.

5. Efek berhenti merokok
Perokok berat membakar sekitar 200 kalori tiap harinya. Rokok juga merupakan penekan nafsu makan karena bisa menghambat produksi hormon insulin di pankreas. Tapi yang mengejutkan adalah, berhenti merokok merupakan penyebab bertambahnya berat badan.

Rata-rata mantan perokok akan mengalami pertambahan berat badan setelah beberapa bulan berhenti merokok. Hal itu disebabkan makanan dijadikan sebagai pengganti rokok untuk menciptakan rasa nyaman. Meski demikian, yang harus diingat adalah berat badan bisa diatasi tapi paru-paru yang sudah rusak akan susah diperbaiki.

6. Efek gen dalam tubuh
Terdapat setidaknya 50 gen yang berhubungan dengan obesitas pada manusia, yang paling terkenal adalah gen FTO. Gen tersebut akan diturunkan dan akan menimbulkan rangsangan nafsu makan di otak. Tapi menurut Dr Sarah Leibowitz dari Rockefeller University, faktor genetik sebenarnya bisa dimanipulasi dan dikalahkan oleh faktor lingkungan.

7. Efek suhu ruangan
Peneliti dari American National Center for Healthy Housing sudah membuktikan pada tikus percobaan bahwa lingkungan yang hangat akan memicu kegemukan. Ketika tubuh kepanasan dan berkeringat, yang paling banyak dikeluarkan tubuh adalah cairan bukan kalori. Tapi ketika berada di lingkungan dingin, tubuh akan bergerak lebih banyak untuk mendapatkan panas dan kehangatan tubuh.

Intinya untuk mencegah obesitas dan mendapat tubuh ideal banyak hal yang harus diperhatikan. Niat ingin sehat dan punya badan ideal akan sia-sia jika hanya mengandalkan satu macam usaha. Untuk sehat, seseorang harus rela mengusahakan semua hal, mulai dari olahraga, makan yang benar hingga tidur cukup. Total konsep adalah rahasia sederhana untuk mendapat badan ideal dan hidup sehat.

“Tidak bisa kita hanya mengandalkan satu macam faktor saja misalkan olahraga terus-terusan atau konsumsi makanan sehat tapi kurang tidur misalnya. Untuk mendapatkan hasil yang bagus dibutuhkan total concept atau konsep keseluruhan,” kata dr Phaidon L Toruan, MM yang juga pengarang buku Fat Loss Not Weight Loss saat dihubungi detikhealth, Rabu (6/1/2020).

Menurutnya, tiap orang memang punya jam biologis dan faktor biologis yang berbeda-beda, tapi dengan pengaturan yang baik tidak ada yang mustahil termasuk menjaga berat badan.

“Ibaratnya sebuah mobil, meskipun sudah pakai Pertamax tapi kalau memang mobilnya tidak dirawat dengan baik maka sia-sia saja,” kata dr Phaidon

h1

Kopi dan Teh Cegah Diabetes Tipe 2

January 5, 2010

KONSUMSI kopi dan teh efektif menurunkan risiko diabetes tipe 2. Studi yang dilakukan para peneliti dari Australia menemukan, semakin banyak kopi yang Anda konsumsi, maka semakin rendah risiko diabetes Anda. Setiap cangkir kopi setara dengan pengurangan risiko diabetes sebesar 7 persen.

“Bukti menunjukkan bahwa konsumsi kopi, termasuk kopi tanpa kafein, dan teh secara terpisah berkaitan dengan pengurangan risiko diabetes tipe 2,” tutur penulis studi Rachel Huxley dari The George Institute for International Health di the University of Sydney, Australia, seperti dikutip situs healthday.

Untuk mempelajari hubungan antara kopi, kopi tanpa kafein dan teh dengan risiko diabetes, Huxley dan teman-temannya mengkaji ulang 18 studi yang telah selesai dilakukan sebelumnya dengan melibatkan 457,922 partisipan. Enam dari studi tersebut melibatkan informasi mengenai konsumsi kopi tak berkafein, sedang 7 lainnya melibatkan informasi kebiasaan minum teh.

Peneliti menemukan bahwa mereka yang minum 3-4 cangkir kopi sehari berisiko 25 persen lebih rendah menderita diabetes tipe 2 dibandingkan mereka yang tidak minum atau mereka yang minum hingga 2 cangkir kopi sehari.

Kopi tak berkafein dan teh juga menunjukkan hasil positif. Mereka yang minum 3-4 cangkir kopi tak berkafein per hari berisiko 1/3 kali lebih kecil menderita diabetes dibandingkan mereka yang tidak minum kopi. Mereka yang minum 3-4 cangkir teh sehari berisiko 1/5 kali lebih rendah menderita diabetes dibandingkan mereka yang tidak minum teh.

Kafein

Sebelumnya, terang Huxley, kandungan kafein di dalam kopi diyakini sebagai sumber manfaat positif kopi. Tapi sekarang para peneliti sudah mulai mengungkap bahwa komponen lain, seperti magnesium, lignan dan asam chlorogenic juga turut berperan. Komponen ini, menurut Huxley, bermanfaat dalam mengatur kadar gula darah dan sekresi insulin.

“Studi ini menambah bukti bahwa diet dan gaya hidup merupakan faktor penentu risiko diabetes selanjutnya,” terang Huxley.”Meskipun masih terlalu awal untuk menganjurkan penambahan asupan teh dan kopi sebagai cara mencegah diabetes, jika temuan-temuan ini dikonfirmasi dengan percobaan klinis, maka selanjutnya identifikasi komponen pelindung pada minuman ini bisa membuka jalur terapi baru dalam pencegahan awal diabetes tipe 2.”

h1

Anjuran Aman Konsumsi Aspirin

January 5, 2010

ASPIRIN mudah diperoleh di pasaran dan banyak orang yang membeli tanpa resep untuk mencegah serangan jantung. Akan tetapi, cara ini sama sekai tidak bijaksana. Sebelum mulai menggunakan, ada baiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu untuk  mengevaluasi risiko serangan jantung dan stroke Anda.

Mengonsumsi aspirin secara rutin setiap hari menguntungkan bagi mereka yang pernah  mengalami serangan jantung atau stroke akibat penyumbatan arteri. Tapi, mengapa semua orang tidak dianjurkan menggunakan aspirin harian?

Masalahnya, terang pakar kesehatan yahoo Simeon Margolis, M.D., Ph.D., aspirin dosis kecil saja bisa menggandakan risiko perdarahan gastrointestinal. Selain itu, aspirin juga meningkatkan risiko stroke hemorrhagic akibat perdarahan di otak. Jadi, keputusan mengenai perlunya seseorang tanpa gejala penyakit jantung menggunakan aspirin secara teratur bergantung pada keseimbangan risiko perdarahan dan kemungkinan manfaatnya terhadap kesehatan kardiovaskular.

Risiko

Dalam Annals of Internal Medicine isu Maret 2009, the U.S. Preventive Services Task Force mempublikasikan rekomendasi penggunaan apirin berdasarkan review hasil-hasil percobaan. Percobaan-percobaan ini menunjukkan bahwa aspirin mengurangi risiko serangan jantung pada laki-laki yang tidak memiliki gejala penyakit jantung koroner (coronary heart disease/CHD) hingga setengahnya. Akan tetapi, aspirin tidak mempunyai efek terhadap risiko serangan jantung pada perempuan sehat.

Bagi Anda (laki-laki dan perempuan) sehat, belum terdeteksi gejala penyakit jantung apa pun, berikut anjuran Task Force mengenai penggunaan aspirin yang bisa menjadi panduan Anda:

Laki-laki berusia kurang dari 45 sebaiknya tidak menggunakan aspirin secara teratur untuk mencegah serangan jantung atau stroke

Perempuan berusia lebih muda dari 55 sebaiknya tidak menggunakan aspirin untuk mencegah serangan jantung atau stroke

Laki-laki yang berusia antara 45 dan 79 sebaiknya mempertimbangkan penggunaan aspirin jika kemungkinan menurunkan risiko serangan jantung lebih besar dibandingkan risiko perdarahan

Perempuan berusia antara 55 dan 79 sebaiknya tidak menggunakan aspirin untuk mengurangi risiko serangan jantung, tapi mungkin mempertimbangkan penggunaan aspirin untuk menurunkan risiko stroke jika manfaatnya melebihi bahaya perdarahan yang mungkin terjadi.

Untuk laki-laki dan perempuan yang berusia lebih dari 80, tidak tersedia bukti cukup untuk melarang penggunaan aspirin.

Yang perlu diingat, aspirin menurunkan jumlah serangan jantung dan stroke tapi tidak mengurangi jumlah kematian akibat gangguan kardiovaskular atau penyebab lain.